Teacherpreneur, Siapa Mereka?

Teacherpreneur, Siapa Mereka?


Oleh: Mampuono
Waketum PTIC

Di masa lalu, sebagian besar satuan pendidikan mengandalkan hierarki yang memisahkan orang yang membuat aturan adminitrasi  pendidikan sekolah (kepala sekolah dan tenaga kependidikan) dari orang-orang yang benar-benar menyelenggarakan pendidikan itu sendiri (guru atau pendidik). Hierarki itu memisahkan keduanya secara fisik, guru di kelas dengan kepala sekolah dan tenaga kependidikan di kantor. Kondisi itu juga memisahkan mereka berdasarkan tujuan pendidikan itu sendiri, di mana  kepala sekolah dan tenaga kependidikan lebih banyak  “membayangkan” kebijakan pembelajaran dan guru mengimplementasikannya secara langsung di dalam kelas. 
Saat ini, di mana dunia berubah cepat sekali dengan terjadinya banyak disrupsi, baik dari sisi teknologi maupun pandemi, sudah ada brand baru pada profesi guru yang dapat  menjembatani kesenjangan yang  terjadi antara guru kelas tradisional, Kepala sekolah dan stake holder  pendidikan, yaitu  teacherpreneur.
Para teacherpreneur mengubah sejarah hierarki ini dengan melangkah keluar kelas untuk memengaruhi berbagai kebijakan di bidang pendidikan. Seorang teacherpreneur akan terlibat secara nyata di dalam kepemimpinan pendidikan, menulis kurikulum mereka sendiri, meneliti filosofi pendidikan, memberikan pelatihan kepada teman sejawat, menggerakkan organisasi,  dan bahkan bekerja untuk mereformasi kebijakan pendidikan resmi. Para siswa di era ini yang memerlukan para guru yang tidak sekedar mengandalkan kompetensinya pada buku teks atau referensi lain  yang serba terbatas akan sangat diuntungkan dengan keberadaan para teacherpreneur ini.

Para teacherpreneur ini perlu diberdayakan dan diberi penghargaan karena prestasi mereka  yang sukses mengembangkan bakat pedagogis dan enterpreneurship mereka. Merekalah yang  menemukan banyak solusi pendidikan dengan menyebarkan dan “menjual” keahlian mereka. Mereka juga  menemukan berbagai  solusi inovasi untuk tantangan yang dihadapi siswa mereka  di era revolusi industri 4.0 ini.  Barnett Bery dalam bukunya “Teaching 2030” mengatakan bahwa di di seluruh dunia akan muncul 4 juta  teacherpreneurs pada tahun 2030.
Multi-Tasking: Menjelajahi Karir Lain tanpa Meninggalkan Kelas 
Sebagian besar guru nyaman menekuni profesi yang sangat dekat dengan kegiatan melakukan transfer ilmu pengetahuan. Secara psikhologis mereka merasa lebih menikmati atau bahkan bahagia jika mereka dapat bekerja dengan anak didiknya dan membuat mereka lebih pintar dan akhirnya sukses. Mereka sering menyebut kondisi kejiwaan ini sebagai panggilan mendidik. 
Di lain pihak, sebagian dari mereka yang memiliki potensi juga ingin mendarmabaktikan peran lebih besar kepada masyarakat. Namun begitu, di masa lalu, mereka yang memiliki impian untuk membuat dampak yang lebih besar di bidang pendidikan pada umumnya diminta untuk meninggalkan posisinya demi mengejar peluang karir di bidang struktural  atau berkarir di lembaga swasta. 
Dengan keberadaan teacherpreneur hal itu  tidak perlu lagi terjadi. Para teacherpreneur yang memilih untuk tetap menekuni profesi sebagai pengajar dan menjelajah karir lain, semisal dalam pembuatan kebijakan, sekaligus dapat mengambil dua peran hibrida ini dengan bekerja secara bersamaan baik di dalam maupun di luar kelas. Tidak ada alasan bagi para teacherpreneur untuk tidak sukses di dalam dan di luar kelas.
Para teacherpreneur memiliki kemampuan untuk bekerja di kelas menyesuaikan  waktu sekaligus mereka juga dapat meningkatkan nilai tambah yang dapat mempengaruhi kebijakan pendidikan di sisa waktu mereka. Pusat Kualitas Pengajaran di Amerika Serikat menggambarkan contoh sukses dari pendekatan ini melalui berbagai studi kasus dan menawarkan inovasi sumber daya tambahan di dalam dan di luar kelas. 
Guru yang tertarik untuk mengejar brand sebagai teacherpreneur dapat memilih untuk memulai karir tambahan sesuai dengan bakat dan minat mereka.  Mereka dapat  bekerja sebagai pengelola komunitas, konsultan, penulis, tutor, konselor, dan lain-lain. Dalam beberapa hal, para teacherpreneur dapat meniru apa yang selama ini sudah berjalan  di lingkungan perguruan tinggi, di mana profesor sering mengejar peluang di luar sistem pendidikan khusus mereka (misalnya profesor ilmu kedokteran  yang bermitra dengan perusahaan swasta untuk mengembangkan vaksin antivirus baru, profesor di bidang teknologi informasi menjadi konsultan riset tentang artificial intelligent, atau profesor sekolah ekonomi yang melakukan penelitian pasar untuk perusahaan tertentu. ) 
Para teacherpreneur juga dapat menggunakan keterampilan yang telah mereka terapkan di kelas untuk menjalankan entrepreneurship semisal edupreneurship dan sociopreneurship. Mereka dapat terlibat dalam  perusahaan penyedia sertifikasi keahlian, mengelola perusahaan network marketing, menjadi brand ambassador produk-produk pendidikan, mengisi pendidikan dan pelatihan tentang model-model  pembelajaran terbaru, mengelola komunitas penulis, atau bahkan bekerja sama dengan politisi baik lokal maupun nasional dalam mengembangkan ide-ide baru untuk kebijakan pendidikan di seluruh kabupaten kota, provinsi, bahkan nasional (dan banyak lagi peluang lainnya). Dengan demikian, teacherpreneurhip memungkinkan lebih banyak guru untuk memiliki dampak di bidang selain pengajaran di kelas, dan juga memungkinkan guru untuk memiliki rangkaian pengalaman profesional yang lebih kaya, lebih beragam, dan memuaskan. 
Membentuk Masa Depan Kebijakan Pendidikan 
Para teacherpreneur dan satuan pendidikan juga mendapat manfaat lebih besar pada saat yang sama ketika  mereka  terlibat langsung dalam perancangan kebijakan pendidikan. Hirarki dalam sistem pendidikan yang selama ini dapat mempersulit guru berpengalaman untuk mengarahkan ruang kelas mereka sendiri dapat diminimalisir. Para teacherpreneur tidak perlu merasa dibatasi sekat-sekat di ruang kelas karena mereka dapat mengajar siswa dan bekerja dengan pembuat kebijakan di hari yang sama. Para profesional ini memiliki masukan berharga yang dapat meningkatkan kebijakan pendidikan. 
Para teacherpreneur yang memilih untuk terlibat di dalam penentuan kebijakan pendidikan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin kunci dalam sistem sekolah mereka. Mereka tidak harus hanya bertindak sebagai penasihat, mereka dapat pindah ke posisi kepemimpinan yang memberi mereka lebih banyak kendali terhadap  bagaimana sistem berfungsi. 
Menjadi Pengajar yang Lebih Baik 
Para teacherpreneur tidak hanya memiliki kesempatan untuk mempengaruhi kebijakan dengan membuka karir kedua, mereka juga justeru menjadi pengajar yang lebih baik. Ini  karena kekayaan  pengalaman yang diperolah dari pekerjaan mereka yang beragam. Peluang untuk bekerja dengan para profesional di luar pendidikan dapat memberikan pengalaman yang menjadikan mereka tampil di dalam kelas  dengan lebih sukses. 
Para teacherpreneur ini memiliki kompetensi dan pengetahuan yang tidak melulu terbatas pada informasi dalam buku teks; sebaliknya, banyaknya interaksi mereka  dengan beragam entitas di luar kelas  karena  sukses bekerja di bidang lain pada akhirnya memberi mereka lebih banyak pengetahuan terkini dan relevan daripada yang sering ditemukan di buku pelajaran kelas. 
Apa yang Bukan pada Teacherpreneur 
Banyak pihak, termasuk para  guru sendiri, tenaga kependidikan, kepala sekolah, dan stake holder pendidikan, khawatir bahwa para teacherpreneur akan kehilangan fokus mengajar dan lebih memilih menekuni  pekerjaan luar mereka mereka sehingga mereka tidak lagi dapat mengajar siswa secara efektif. Sebaliknya, para pihak ini   harus dapat  melihat apa yang dilakukan para teacherpreneur sebagai cara untuk membawa inovasi dan kegembiraan ke dalam kelas. Hal itu  pada dasarnya memberikan  pengalaman yang lebih efektif dan memperkaya ke seluruh sistem pendidikan. Dalam arti tertentu, para teacherpreneur meninggalkan birokrasi untuk mencapai keadaan pembelajaran yang lebih berarti dan efisien. Guru yang memilih jalur ini berdedikasi untuk bekerja dengan siswa dan memilih untuk tetap tinggal karena mereka suka berhubungan dengan siswa mereka, tetapi juga berdedikasi untuk melampaui pengajaran di kelas untuk membuat perubahan sistemik untuk memperbaiki sistem pendidikan kita. 
Guru yang tertarik dengan teacherpreneurship harus melakukan pendekatan dengan pemahaman bahwa pekerjaan teacherpreneur itu membutuhkan banyak tenaga, pikiran, multi fokus, dan pengabdian yang tidak main-main. Hari-hari seorang teacherpreneur selalu  penuh kesibukan. Mereka yang memiliki tingkat energi yang tepat pada posisi ini akan menemukan bahwa posisi teacherpreneur menawarkan fleksibilitas yang mereka butuhkan untuk tetap tertarik pada pekerjaan mereka dan menawarkan layanan yang lebih baik ke sekolah, dan mungkin pada akhirnya mengubah dunia. Guru cerdas, Indonesia emas.


Source
https://all4ed.org/wp-content/uploads/2013/09/091710CTQPPT.pdf 
https://educationonline.ku.edu/community/what-is-a-teacherpreneur
http://ww2.kqed.org/mindshift/2011/04/11/what-the-heck-is-a-teacherpreneur/ 
http://www.edweek.org/tm/articles/2014/02/19/ctq-cuthbertson.html 
http://www.teachingquality.org/case-studies