Strategi Pembelajaran Pada Pendidikan Vokasi

Pendidikan vokasi menjadi pilihan sekolah yang tepat di era globalisasi seperti sekarang. Selain banyak yang membuka program sarjana terapan, sekolah vokasi melatih praktikal jauh lebih banyak dibandingkan pendidikan teori, sehingga tidak mengherankan jika lulusan vokasi lebih banyak dibutuhkan perusahaan karena dianggap lebih siap terjun ke dunia kerja, apalagi ada berbagai keuntungan yang bisa didapat saat masuk sekolah vokasi.

Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk mengetahui seperti apa strategi pembelajaran dan hal-hal yang berkaitan sebelum memutuskan untuk masuk ke sekolah vokasi.

Sebenarnya strategi pembelajaran yang digunakan sangat tergantung di mana tempat pendidikan berlangsung. Berikut ini beberapa contoh-contoh strategi pembelajaran yang biasanya digunakan dalam sekolah vokasi, di antaranya :

1. Teori dan praktik komunikasi (presentasi dan diskusi) 

2. Aplikasi teori matematika dalam kehidupan seharihari

3. Teori dan aplikasi komputer untuk berbagai keperluan

4. Melakukan penelitian laboratorium/lapangan

5. Membuat karya ilmiah dalam bahasa Indonesia Baku

6. Teori dan praktik bahasa Inggris (reading, listening, conversation)

7. Project work dan praktek kewirausahaan

8. Praktek kejuruan di bengkel/laboratorium /lapangan 

Untuk memahami konsep strategi pembelajaran di atas, dapat diterapkan dalam proses pengajaran pada pendidikan vokasi di Inggris, berikut adalah gambaran kegiatan pembelajaran siswa jurusan pariwisata. 

Tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran ini yaitu siswa mampu mempraktikkan prosedur evakuasi dan keamanan (the safety evacuation) di pesawat udara. Berdasarkan tujuan pembelajaran ini, materi pembelajaran lebih diarahkan pada penguasaan keterampilan, bukan hanya teori. Siswa akan melakukan beberapa simulasi untuk dapat memahami dengan jelas situasi sebenarnya yang akan mereka hadapi, termasuk membuat keputusan yang realistis berdasarkan kondisi yang ada di lapangan.

Beberapa instrumen dan langkah pembelajaran otentiknya adalah sebagai berikut :

1. Penggunaan rekaman suara untuk menggambarkan situasi darurat di pesawat. Praktik ini telah sesuai dengan salah satu ciri pembelajaran otentik yang menggunakan media pembelajaran yang variatif (Reeves, Herrington & Oliver, 2002). Kesan yang siswa tangkap saat mendengarkan rekaman percakapan pilot dengan pemandu lalu lintas udara, lengkap dengan efek suara pendukung, tentunya akan berbeda dibandngkan dengan kesan yang mereka tangkap saat mendapatkan gambaran situasi yang sama hanya melalui deskripsi lisan guru. Terlebih, dengan mata tertutup, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dan unik.

2. Guru tidak serta merta memberikan alasan mengapa siswa diharuskan menutup mata saat mendengarkan rekaman suara dan memasang perlengkapan keselamatan. Guru meminta siswa memikirkan alasan dibalik kegiatan ini melalui diskusi dengan siswa lain. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam diskusi sehingga siswa dapat berpendapat dengan lebih aktif. Dengan memecahkan masalah yang diberikan guru melalui tanya jawab dan diskusi seperti contoh diatas, siswa akan terlatih untuk berpikir kritis. Penting bagi guru pendidikan vokasi untuk dapat mengajarkan dan membiasakan sikap berpikir kritis dan mendalam karena dunia kerja modern mengharuskan pekerjanya untuk dapat berpikir kreatif (Spencer, Lucas & Claxton, 2012).

3. Pada tahap akhir pembelajaran, guru memfasilitasi diskusi antar siswa dan menampung ide-ide yang mereka miliki tentang pengembangan demonstrasi keselamatan bagi penumpang pesawat udara. Tidak hanya sesuai dengan tema pembelajaran, diskusi ini juga bertujuan untuk menjawab tantangan yang ada di industri penerbangan. Seperti yang kita ketahui, demonstrasi keselamatan bagi penumpang pesawat udara seringkali dianggap membosankan sehingga diabaikan. Proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir kreatif, secara tidak langsung, akan mengarahkan siswa untuk meng-gunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini sesuai dengan salah satu elemen utama pendidikan vokasi yang diharapkan mampu membimbing siswa berpikir luas dan menyelesaikan masalah secara objektif melalui pertanyaan terbuka (Reeves, Herrington & Oliver, 2002). Untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, guru juga menugaskan siswa untuk menganalisa alasan dibalik pentingnya demonstrasi keselamatan penumpang pesawat udara. Melalui proses pembelajaran yang terstruktur dan kompleks seperti contoh, siswa akan terlatih untuk berpikir secara mendalam dan bertahap.

Kajian praktis dan empiris mengenai pembelajaran otentik, terutama dalam pendidikan vokasi, masih memerlukan banyak perhatian. Akan tetapi, di Inggris sendiri, pembelajaran otentik bukan merupakan konsep yang baru dan asing. Terbukti, pemerintah Inggris telah menjadikan laporan dari perwakilan pelaku usaha sebagai landasan untuk menganalisa kebutuhan lapangan kerja dan menentukan kompetensi yang perlu dipelajari siswa sekolah vokasi. Hal ini dilakukan demi menjaga relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan lapangan kerja sehingga siswa mampu mencapai kompetensi yang menjadi tuntutan di dunia kerja. Di samping itu, elemen utama pendidikan vokasi juga telah diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar seperti contoh kegiatan pem-belajaran siswa jurusan pariwisata yang telah disajikan sebelumnya. Beberapa rekomendasi telah disajikan untuk mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia. Salah satu poin penting pengembangan yang layak dipertimbangkan adalah pembaharuan pendekatan mengajar oleh guru guna membentuk sikap berpikir siswa yang kritis dan mendalam.