Harapanku Tertunda

Harapanku Tertunda

Terlahir dari keluarga petani di kampung yang terletak jauh dari keramaian..

Masa kecil ku hanya berkubang di sawah dan ikut mencari ikan dengan orang tua waktu itu.. jauh dari bayangan aku akan jadi guru di masa depanku

aku termasuk anak yang terlambat sekolah benaran.. karena umur 6 tahun aku hanya sekolah ikut saja dengan kakakku.. dan itu berlangsung 2 tahun, berbetulan juga waktu itu badanku kecil sehingga oleh pihak sekolah aku dianggap belum pas untuk masuk sekolah, sehingga aku diboleh masuk kelas dan belajar sendiri ketika umur 8 tahun. 

karena sudah 2 tahun sekolah ikutan sama kakakku, dimana aku hanya nunggu kakakku kadang ikut masuk kelas kadang berdiri diluar kelas atau bermain dihalaman sekolah sendirian.. sehingga aku dikenal oleh semua guru SD waktu itu, dan ketika aku masuk kelas I aku sudah lancar baca tulis dan berhitung, hanya pelajaran menyanyi saja yang paling aku tidak senangi. untuk pelajaran ngaji aku sudah ngaji duduk dengan abahku dirumah juga tetanggaku, sehingga di kelas I itu aku sudah bisa ngaji sendiri meski belum lancar, selain SD aku juga sore hari belajar di madrasah diniyah sehinga ini juga yang membantu aku sedikit lebih banyak belajar agama Islam termasuk baca Alqur'an.

Dalam pembelajaran aku termasuk siswa yang cerdas menurut guru-guruku, terbukti saat pembagian raport dan kenaikan kelas aku selalu dapat rangking tertinggi di kelas, puncaknya saat aku berada di kelas VI SD, ketika ujian dulu namanya Ebtanas dilaksanakan, aku ternyata mendapatkan nilai tertinggi se kecamatan, tentu saja aku senang waktu itu. mama abahku ga tahu apakah mereka faham dan mengerti tentang hasil ujianku, aku tidak faham jua, karena memang orang tuaku maunya aku sekolah saja, pokoknya bisa baca tulis dan hitung, itu saja. dan sepertinya mereka juga tidak terlalu memikirkan untuk meneruskan pendidikan aku dan kakakku.

aku lulus SD di umur 14 tahun, masuk usia remaja dan sudah mulai berpikir tentang masa depan. aku izin dengan mama abah ketika itu untuk tetap bersekolah, akhir nya mereka setuju dengan catatan tetap harus bantu mereka di sawah untuk bertani, dan aku iyakan. Maka aku masuk sekolah lanjutan pertama satu-satunya yang ada di kampung waktu itu, yakni Madrasah Tsanawiyah sebuah lembaga pendidikan selevel SMP tetapi dibawah naungan Departemen Agama waktu. pendidikan di MTs ini berlangsung selama 3 tahun di pagi harinya, selain itu juga sempat ku masuk di pondok pesantren sore harinya cuma tidak lama hanya setahun, karena jarak rumahku ke ponpes itu cukup jauh, sehingga aku putuskan untuk berhenti.

setamatnya aku dari MTs itu aku bermaksud ingin melanjutkan sekolahku ke SMA, cuma dikampungku waktu itu tidak ada SMA, maka jika mau lanjut sekolah harus ke kota. ini yang kemudian jadi kendala. kendala bukan saja persoalan biaya yang pasti akan harus dipikirkan, termasuk aku harus pisah dengan mama abahku. dan ternyata betul ketika keinginan itu kusampaikan dengan orangtuaku ternyata jawaban yang sudah kupredeksi betul, bahwa mereka belum bisa memberi izin, karena faktor ekonomi yang utama, pupuslah harapanku untuk masuk SMA tahun itu...

 

Bersambung